
Apa Itu Incident Management? Pengertian dan Cara Kerjanya
November 25, 2025Apa Itu Identity Proofing? Pengertian, Cara Kerja, dan Contoh untuk Perusahaan

Dalam proses onboarding karyawan atau pelanggan, memastikan identitas seseorang adalah langkah yang sangat penting. Kesalahan verifikasi berdampak langsung pada keamanan, akses data, dan risiko penipuan. Di sinilah identity proofing menjadi fondasi keamanan identitas modern.
Artikel ini mengulas konsep identity proofing, bagaimana cara kerjanya, dan penerapannya dalam bisnis.
Apa Itu Identity Proofing?
Identity proofing adalah proses untuk memverifikasi bahwa seseorang benar-benar pemilik identitas yang mereka klaim, menggunakan data, dokumen, atau fitur biometrik. Proses ini memastikan individu yang mendapatkan akses adalah pihak yang sah dan dapat dipercaya.
Identity proofing digunakan pada:
-
onboarding karyawan
-
pembuatan akun pengguna
-
aktivasi akses aplikasi
-
reset akun dengan risiko tinggi
-
proses KYC (Know Your Customer)
Mengapa Identity Proofing Penting?
1. Mencegah Penyalahgunaan Identitas
Identity proofing mengurangi risiko orang yang tidak berwenang mengakses data sensitif.
2. Mendukung Zero Trust
Zero Trust menuntut setiap akses harus diverifikasi, tidak hanya login awal.
3. Mengurangi Fraud dan Risiko Internal
Identitas palsu dapat menyebabkan penyalahgunaan akses atau ancaman dari pihak internal.
4. Membantu Kepatuhan
Standar seperti ISO, SOC 2, dan UU PDP mengharuskan perusahaan memastikan identitas pengguna diverifikasi secara memadai.
Cara Kerja Identity Proofing
1. Pengumpulan Data Identitas
Pengguna diminta memberikan dokumen atau informasi seperti:
-
kartu identitas
-
nomor telepon
-
email perusahaan
-
biometrik
2. Validasi Dokumen atau Data
Sistem memeriksa keaslian dokumen atau data melalui mekanisme otomatis atau manual.
3. Verifikasi Kepemilikan Identitas
Tahap ini membuktikan bahwa orang yang mengirim dokumen adalah orang yang sama—misalnya melalui:
-
selfie biometrik
-
video verification
-
challenge-response
4. Penetapan Tingkat Kepercayaan (Confidence Score)
Setiap verifikasi menghasilkan skor kepercayaan untuk menentukan apakah individu layak diberi akses.
Jenis-Jenis Identity Proofing
1. Dokumen (Document-Based)
Verifikasi melalui foto KTP, paspor, atau dokumen resmi lainnya.
2. Data (Database-Based)
Pemeriksaan via NIK, email perusahaan, atau nomor telepon.
3. Biometrik (Biometric Identity Proofing)
Menggunakan wajah atau sidik jari untuk membuktikan identitas pengguna.
Baca Juga : Kebiasaan Pengguna yang Sering Melemahkan Sistem Keamanan
Contoh Identity Proofing dalam Bisnis
-
HR onboarding: verifikasi karyawan baru sebelum pemberian akses sistem.
-
SaaS: verifikasi identitas saat membuat akun perusahaan.
-
Finance: verifikasi identitas untuk akses data sensitif.
-
Cloud access: pemeriksaan biometrik sebelum login ke aplikasi berisiko tinggi.
Tantangan dalam Identity Proofing
1. Kompleksitas Dokumen : Dokumen digital mudah dipalsukan tanpa sistem verifikasi yang baik.
2. Risiko Privasi : Perusahaan harus berhati-hati mengelola data identitas agar tidak melanggar regulasi.
3. Integrasi dengan IAM : Identity proofing paling efektif bila terhubung dengan sistem IAM dan kontrol akses.
Penutup
Identity proofing menjadi langkah awal untuk memastikan identitas pengguna benar dan aman sebelum akses diberikan.
Dalam lingkungan bisnis yang semakin digital, proses ini membantu mengurangi risiko penyalahgunaan akses, meningkatkan keamanan, dan mendukung implementasi Zero Trust.
Untuk perusahaan yang ingin menerapkan verifikasi identitas terpusat dalam alur akses, Adaptist Prime menyediakan landasan IAM yang mendukung autentikasi terjamin, tinjauan akses, dan kontrol keamanan yang lebih terstruktur.



