
Chief Compliance Officer: Peran, Gaji, dan Cara Menjadi CCO
Januari 12, 2026
Apa Itu CMMS? Pengertian, Fungsi, dan Strategi
Januari 13, 2026Apa Itu Threat Hunting? Panduan Lengkap Cara Kerja dan Tantangannya

Dalam lanskap keamanan siber modern, mengandalkan pertahanan pasif seperti firewall atau antivirus tradisional tidak lagi cukup. Perusahaan kini menghadapi musuh yang mampu bersembunyi di dalam jaringan selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi. Inilah mengapa strategi antisipatif menjadi kebutuhan mutlak bagi kelangsungan bisnis Anda.
Threat hunting hadir sebagai jawaban atas kesenjangan keamanan tersebut. Metode ini secara aktif mencari anomali yang lolos dari radar keamanan standar. Dengan pendekatan ini, organisasi Anda dapat memitigasi risiko data breach sebelum kerusakan fatal terjadi.
Apa Itu Threat Hunting?
Menurut Wikipedia Threat hunting atau cyberthreat hunting (perburuan ancaman siber) adalah praktik keamanan proaktif yang dilakukan oleh analis keamanan untuk mendeteksi ancaman canggih yang berhasil menembus pertahanan awal jaringan.
Bayangkan standar pertahanan perusahaan Anda (Antivirus/Firewall) bekerja dengan prinsip “Mencocokkan Daftar Hitam”. Jika sebuah file atau IP yang keberadaannya tidak ada di daftar hitam yang mereka miliki, sistem akan membiarkannya masuk dan menganggapnya aman.
Masalahnya, peretas modern sering menggunakan alat-alat resmi Windows atau kredensial karyawan yang sah agar tidak masuk dalam daftar hitam tersebut.
Di sinilah Threat Hunting bekerja. Ia tidak lagi memeriksa daftar, melainkan menganalisis perilaku aneh.
Alih-alih bertanya “Apakah file ini merupakan bagian dari virus?”, Threat Hunter bertanya: “Mengapa aplikasi (misalnya Notepad) mencoba mengirim data ke internet?” atau “Mengapa akun Admin login pada jam 3 pagi?” (sesuatu aktifitas yang berbeda dari biasanya). Ia berasumsi pertahanan awal sudah berhasil lolos, lalu mencari aktivitas tidak wajar(anomali) dari akun atau aplikasi yang terlihat sah.
Berbeda dengan sistem keamanan otomatis yang bereaksi setelah serangan terjadi, threat hunting bersifat inisiatif dan berulang. Proses ini menggabungkan kecerdasan manusia dengan data telemetri untuk menemukan indikator kompromi (IoC) yang tersembunyi.
Tujuannya bukan sekadar menutup celah keamanan, tetapi memburu aktor jahat yang mungkin sudah berada di dalam sistem (dwell time).
Tipe Threat Hunting
Meskipun tujuannya sama, pendekatan dalam melakukan perburuan ancaman dapat bervariasi tergantung pada pemicu dan metodenya. Berikut adalah tiga tipe utama yang umum diterapkan dalam lingkungan B2B:
1. Structured Hunting
Tipe ini didasarkan pada indikator serangan (IoA) dan Taktik, Teknik, dan Prosedur (TTPs) penyerang yang sudah diketahui. Analis biasanya menggunakan kerangka kerja standar seperti MITRE ATT&CK sebagai panduan.
Prosesnya sangat sistematis dan terencana. Anda tidak mencari secara acak, melainkan memvalidasi apakah teknik penyerangan spesifik sedang terjadi di jaringan Anda.
2. Unstructured Hunting
Sesuai namanya, perburuan ini tidak mengikuti pola yang kaku dan sering kali dipicu oleh trigger tertentu atau intuisi analis senior. Biasanya, ini dimulai dari satu anomali data atau log yang mencurigakan.
Analis akan mencarinya dari petunjuk kecil tersebut untuk melihat ke mana arahnya. Meskipun terdengar acak, metode ini sering kali efektif menemukan ancaman baru yang belum memiliki signature atau pola baku.
3. Situational/Entity-Driven Hunting
Fokus dari tipe ini adalah pada entitas spesifik yang berisiko tinggi atau kerentanan yang baru saja dipublikasikan. Misalnya, jika departemen keuangan Anda mengelola data sensitif, perburuan akan dipusatkan pada aset-aset di departemen tersebut.
Metode ini juga sering disebut sebagai Targeted Hunting. Pendekatan ini sangat relevan untuk melindungi perusahaan Anda dari risiko spionase industri atau pencurian kekayaan intelektual.
Tujuan Utama Threat Hunting
Mengapa perusahaan Anda harus mengalokasikan sumber daya untuk aktivitas yang memakan waktu ini? Tujuan utamanya adalah memperkecil dwell time atau durasi waktu yang penyerang miliki untuk berada di dalam jaringan sebelum ketahuan.
Semakin lama penyerang berdiam, semakin besar potensi kerusakan dan eksfiltrasi data yang terjadi. Threat hunting bertujuan memutus rantai serangan (kill chain) sedini mungkin.
Selain itu, aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan logika deteksi otomatis. Temuan dari proses hunting manual harus dikonversi menjadi aturan otomatis baru di dalam sistem keamanan Anda, sehingga ancaman serupa di masa depan dapat diblokir secara instan.
Area yang Menjadi Fokus Threat Hunting
Seorang threat hunter tidak bisa memeriksa seluruh samudra data sekaligus. Mereka harus memfokuskan lensa pada area-area yang memiliki probabilitas serangan tertinggi:
1. Insider Threats
Ancaman tidak selalu datang dari luar; sering kali bahaya terbesar berasal dari dalam. Tanpa pengawasan ketat, insider threats dapat menyebabkan kebocoran data strategis tanpa memicu alarm firewall.
Fokus ini mencari anomali perilaku pengguna, seperti akses data di luar jam kerja atau unduhan massal oleh karyawan yang akan resign. Tanpa visibilitas ke layer identitas, ancaman ini sangat sulit dideteksi.
2. Abnormal Network Traffic
Lalu lintas jaringan adalah denyut nadi perusahaan yang harus terus dipantau. Hunter akan mencari koneksi keluar ke alamat IP yang tidak dikenal atau volume transfer data yang tidak wajar (exfiltration).
Anomali seperti penggunaan port non-standar atau pola beaconing (sinyal “detak jantung” dari malware ke server penyerang) menjadi target utama. Deteksi dini di sini dapat mencegah malware menyebar ke seluruh infrastruktur.
3. Privilege Escalation
Penyerang jarang puas dengan akses level rendah; mereka akan mencoba mendapatkan hak akses administrator. Fokus hunting di sini adalah memantau perubahan pada grup admin atau instalasi tools yang tidak sah.
Upaya eskalasi hak istimewa ini sering kali menjadi langkah awal sebelum penyerang mengambil alih kontrol penuh atas Domain Controller Anda [Internal Link: Pelajari tentang Manajemen Akses Identitas Adaptist].
4. Hidden Malware & Web Shells
Antivirus tradisional sering gagal mendeteksi fileless malware atau web shells yang ditanam di server. Area ini memerlukan analisis mendalam terhadap proses yang berjalan di memori atau skrip tersembunyi di direktori web.
Bagaimana Cara Kerjanya
Proses threat hunting bukanlah aktivitas satu kali jalan, melainkan sebuah siklus yang berkelanjutan. Berikut adalah tahapan kerjanya secara rinci:
1. Hypothesis-Driven Hunting (Perumusan Hipotesis)
Segala sesuatu dimulai dengan pertanyaan atau hipotesis. Misalnya: “Jika penyerang menggunakan teknik Phishing untuk mencuri kredensial admin, jejak apa yang akan tertinggal di log autentikasi?”
Hipotesis ini dibangun berdasarkan intelijen ancaman terbaru atau kerangka kerja MITRE ATT&CK. Tanpa hipotesis yang kuat, hunting hanya akan menjadi aktivitas mencari jarum di tumpukan jerami tanpa arah.
2. Data Collection & Enrichment
Setelah hipotesis dibuat, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data yang relevan untuk membuktikannya. Data ini bisa berasal dari log SIEM, endpoint telemetry, hingga catatan DNS.
Data mentah sering kali perlu diperkaya (enrichment) dengan informasi kontekstual seperti lokasi GeoIP atau reputasi domain. Di sinilah integrasi data yang mulus menjadi krusial agar analis tidak membuang waktu melakukan korelasi manual.
3. Detection & Analysis
Pada tahap ini, hunter akan menjalankan kueri pencarian (search queries) di dalam dataset untuk menemukan pola yang sesuai dengan hipotesis. Ini adalah tahap teknis yang membutuhkan keahlian analisis mendalam.
Jika anomali ditemukan, analis harus memverifikasi apakah itu benar-benar ancaman (True Positive) atau hanya aktivitas bisnis yang tidak biasa (False Positive). Akurasi di tahap ini sangat menentukan langkah mitigasi selanjutnya.
4. Response & Mitigation
Jika ancaman terkonfirmasi, tindakan responsif harus segera diambil. Ini bisa berupa isolasi perangkat yang terinfeksi, pemblokiran IP, atau reset kredensial pengguna yang dikompromikan.
Kerja sama dengan tim Incident Response (IR) sangat vital di sini. Dokumentasi yang rapi menggunakan Adaptist Prose akan memastikan setiap langkah mitigasi tercatat untuk keperluan audit dan kepatuhan (GRC).
Baca juga : Apa Itu Incident Management? Cara Menangani Insiden Aplikasi Secara Terstruktur
5. Learning & Sharing
Siklus ditutup dengan pembelajaran. Pola serangan yang baru ditemukan harus diterjemahkan menjadi aturan deteksi otomatis agar tim keamanan tidak perlu memburunya secara manual lagi di masa depan.
Teknik dalam Threat Hunting
Untuk menjalankan tahapan di atas, para profesional menggunakan berbagai teknik analisis data yang canggih:
- Baselining: Teknik ini melibatkan pemahaman mendalam tentang apa yang dianggap “normal” dalam jaringan Anda. Dengan mengetahui pola lalu lintas dan perilaku pengguna standar, penyimpangan sekecil apa pun akan terlihat jelas.
- Attack-Specific Hunts: Berburu berdasarkan indikator spesifik dari serangan yang sedang tren, misalnya kerentanan Log4j atau ransomware terbaru. Ini bersifat reaktif terhadap berita keamanan global namun proaktif dalam pemeriksaan internal.
- Time Sensitivity: Menganalisis frekuensi dan waktu kejadian (Frequency Analysis). Login yang dilakukan pada jam 3 pagi oleh staf HR lokal adalah contoh anomali berbasis waktu yang patut dicurigai.
- Third-Party Sources: Memanfaatkan feed intelijen ancaman eksternal untuk memperkaya konteks perburuan. Menggabungkan data internal dengan wawasan global meningkatkan probabilitas deteksi.
Tantangan dalam Threat Hunting
Meskipun vital, menerapkan threat hunting yang efektif bukanlah tugas yang mudah bagi banyak perusahaan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah Volume Data yang masif, yang sering kali menciptakan “noise” dan menyulitkan identifikasi sinyal ancaman yang sebenarnya.
Tantangan kedua adalah Kesenjangan Keahlian (Skill Gap). Threat hunting membutuhkan analis senior dengan pemahaman mendalam tentang sistem operasi dan jaringan, yang merupakan sumber daya langka di pasar tenaga kerja saat ini.
Terakhir adalah masalah Biaya dan Sumber Daya. Membangun tim in-house memerlukan investasi besar pada tools dan personel. Integrasi yang buruk antar perangkat keamanan juga sering menghambat visibilitas menyeluruh (silo data).
Alat Threat Hunting
Untuk mengatasi tantangan volume data dan kompleksitas analisis, threat hunter mengandalkan serangkaian alat canggih:
- Managed Detection and Response (MDR): Layanan yang menggabungkan teknologi dan keahlian manusia untuk memantau ancaman 24/7.
- Endpoint Detection and Response (EDR): Alat wajib yang merekam aktivitas di setiap perangkat ujung (laptop, server) untuk analisis forensik mendalam.
- Security Information and Event Management (SIEM): Pusat pengumpulan log yang memungkinkan korelasi data dari berbagai sumber keamanan dalam satu dasbor.
- Security Analytics: Platform analitik yang menggunakan machine learning untuk mendeteksi anomali perilaku yang mungkin luput dari aturan statis.
Perbedaan Threat Hunting vs Threat Intelligence
Sering kali kedua istilah ini dipertukarkan, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Berikut adalah perbandingan utamanya:
| Aspek | Threat Intelligence (CTI) | Threat Hunting |
|---|---|---|
| Definisi Utama | Pengumpulan dan analisis informasi tentang ancaman, motif, dan metode penyerang. | Proses proaktif mencari ancaman siber yang lolos dari deteksi keamanan standar di dalam jaringan. |
| Fokus | Eksternal & Global. Fokus pada apa yang terjadi di luar sana (tren serangan, grup hacker, IOCs). | Internal. Fokus pada apa yang mungkin sedang terjadi di dalam jaringan organisasi Anda saat ini. |
| Sifat | Informatif & Analitis. Memberikan konteks tentang siapa musuhnya. | Investigatif & Aksi. Berasumsi bahwa sistem sudah disusupi dan mencari buktinya. |
| Pemicu (Trigger) | Data feed, laporan keamanan, dan analisis dark web. | Hipotesis (dugaan awal) yang dibuat oleh hunter atau berdasarkan data intelijen. |
| Tujuan Akhir | Menghasilkan pengetahuan (IOCs, TTPs) untuk mencegah serangan di masa depan. | Menemukan serangan aktif yang tersembunyi (APT) untuk menghentikannya sebelum kerusakan meluas. |
| Analogi | Mempelajari profil kriminal dan modus operandi perampok bank. | Petugas keamanan yang aktif menyisir brankas dan lorong bank untuk mencari perampok yang bersembunyi. |
Kesimpulan
Strategi threat hunting yang efektif menuntut visibilitas total, terutama pada area yang sering luput dari pengawasan seperti anomali perilaku pengguna. Penerapan strategi ini juga penting untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan data.
Tanpa alat yang tepat, upaya memburu ancaman secara manual ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami yang memakan waktu dan biaya. Jangan biarkan bisnis Anda terekspos karena celah visibilitas ini. Hubungi Konsultan Kami untuk audit keamanan identitas perusahaan Anda.
Dengan dukungan fitur Threat Insight Adaptist Prime, tim keamanan Anda mendapatkan visibilitas real-time terhadap potensi ancaman dan deteksi dini insiden keamanan. Teknologi ini memungkinkan Anda melakukan mitigasi risiko akses secara proaktif, menghentikan pergerakan penyerang sebelum mereka berhasil mengambil data berharga Anda.
FAQ
Berikut adalah jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan oleh para pemimpin keamanan siber mengenai implementasi strategi ini:
1. Apa perbedaan utama Threat Hunting dengan Penetration Testing?
Penetration Testing (Pentest) adalah simulasi serangan etis untuk menemukan celah keamanan atau vulnerability sebelum dieksploitasi. Sifatnya adalah pengujian pertahanan.
2. Apakah Threat Hunting bisa diotomatisasi sepenuhnya menggunakan AI?
Tidak sepenuhnya. Meskipun AI dan Machine Learning sangat membantu dalam menyaring data dalam jumlah besar, inti dari Threat Hunting adalah intuisi dan kreativitas manusia dalam menyusun hipotesis serangan yang belum pernah ada sebelumnya.
3. Seberapa sering perusahaan harus melakukan Threat Hunting?
Idealnya, Threat Hunting adalah proses yang berkelanjutan (continuous), bukan aktivitas tahunan seperti audit. Ancaman siber berkembang setiap hari.
4. Bagaimana Adaptist Prime membantu proses Threat Hunting?
Threat Hunting sering kali terhambat oleh kurangnya visibilitas terhadap siapa yang mengakses apa. Adaptist Prime menyediakan fitur Threat Insight yang memberikan visibilitas real-time terhadap potensi ancaman dan deteksi dini insiden keamanan.
5. Apakah bisnis skala menengah perlu melakukan Threat Hunting?
Sangat perlu. Penyerang siber sering menargetkan bisnis menengah karena mereka tahu pertahanannya sering kali lebih lemah daripada korporasi besar, namun memiliki aset data yang tetap bernilai.



