
Auto-Routing Tiket Enterprise untuk Produktivitas
Oktober 1, 2025
Integrasi IAM dan Cloud: Strategi Bisnis Aman
Oktober 2, 2025Insider Threat sebagai Ancaman bagi Perusahaan: Jenis, Ciri-Ciri, dan Strategi Pencegahannya

Keamanan siber sering kali digambarkan sebagai pertempuran melawan peretas anonim yang mencoba menembus firewall dari luar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan fakta yang jauh lebih meresahkan bagi para eksekutif dan pemimpin IT. Ancaman terbesar bagi keamanan data perusahaan Anda mungkin bukan berasal dari sindikat kriminal siber internasional(eksternal), melainkan dari orang yang duduk di kubikel sebelah Anda(internal).
Karyawan, kontraktor, atau mitra bisnis yang memiliki akses sah ke sistem internal sering kali menjadi titik beresiko yang paling fatal.
Apa itu Insider Threat?
Insider threat adalah risiko keamanan yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri. Istilah ini merujuk pada ancaman yang ditimbulkan oleh individu yang memiliki—atau pernah memiliki—akses resmi ke sistem, jaringan, dan data perusahaan. Berbeda dengan serangan eksternal yang harus mencari celah keamanan untuk masuk, pelaku insider threat sudah berada di dalam lingkungan internal organisasi Anda.
Mereka memiliki kredensial yang valid, pengetahuan tentang struktur folder, dan sering kali mengetahui letak data paling bernilai milik perusahaan. Definisi ini mencakup berbagai bentuk, mulai dari kelalaian karyawan yang tidak disengaja hingga sabotase yang didorong oleh motif dendam atau keuntungan finansial.
Menurut definisi umum dalam keamanan siber, Insider threat memanfaatkan kepercayaan yang diberikan organisasi untuk mengakibatkan kerugian, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ciri-ciri Serangan Insider Threat
Mendeteksi ancaman dari dalam jauh lebih sulit dibandingkan mendeteksi malware atau serangan brute force eksternal. Hal ini dikarenakan aktivitas yang dilakukan sering kali terlihat seperti pekerjaan rutin sehari-hari.
Namun, ada beberapa ciri ciri serangan insider threat yang dapat diidentifikasi melalui pemantauan perilaku:
- Akses di Luar Jam Kerja: Aktivitas login atau akses database pada tengah malam atau akhir pekan tanpa alasan bisnis yang jelas.
- Perpindahan Data Masif: Mengunduh data dalam jumlah besar ke drive eksternal atau penyimpanan cloud pribadi (Google Drive, Dropbox) yang tidak terotorisasi.
- Eskalasi Hak Akses: Upaya berulang untuk mengakses area jaringan atau folder yang tidak relevan dengan peran pekerjaan mereka.
- Perubahan Perilaku Kerja: Penurunan kinerja yang drastis, ketidakpuasan vokal terhadap manajemen, atau penolakan cuti tahunan (sering terjadi pada kasus fraud keuangan).
8 Jenis Insider Threat Secara Spesifik
Insider threat merupakan salah satu ancaman keamanan paling sulit dideteksi karena berasal dari individu yang memiliki akses sah ke sistem dan data organisasi. Ancaman ini tidak selalu bermotif jahat sejak awal, tetapi sering muncul dari kombinasi akses berlebih, kelalaian, tekanan bisnis, atau lemahnya pengawasan internal. Oleh karena itu, memahami jenis-jenis insider threat secara spesifik menjadi langkah krusial agar organisasi dapat menerapkan kontrol, audit, dan pencegahan yang tepat sasaran.
Berikut adalah delapan varian insider threat yang perlu Anda waspadai:
| Tipe Insider | Modus Operandi & Niat | Contoh Kasus / Risiko |
|---|---|---|
| Malicious Insider | Sengaja. Mencuri data untuk keuntungan pribadi atau sabotase. | Menjual data nasabah ke pesaing. |
| Inadvertent Insider | Ketidaksengajaan. Kesalahan murni tanpa unsur kelalaian berat. | Salah kirim email berisi data gaji ke seluruh kantor. |
| The Mole | Penyusup. Pihak luar yang melamar kerja dengan tujuan spionase. | Kompetitor menyamar jadi karyawan untuk curi resep produk. |
| Negligent Insider | Kelalaian. Mengabaikan aturan demi kenyamanan (pengabaian). | Mematikan antivirus atau berbagi password. |
| Compromised Insider | Korban. Akun/perangkat diambil alih peretas (Phishing). | Akun CEO diretas untuk minta transfer uang (CEO Fraud). |
| Former Insider | Mantan Pekerja. Akses belum dicabut setelah resign/PHK. | Mantan karyawan mengunduh basis data klien dari rumah dengan tujuan melakukan pembalasan. |
| The Pawn | Dimanipulasi/Penipuan. Korban rekayasa sosial (social engineering). | Staf admin ditipu penelepon yang mengaku “Tim IT Pusat”. |
| Third-Party Insider | Mitra/Pihak Ketiga. Vendor/kontraktor dengan akses VPN ke jaringan. | Peretas mengeksploitasi kelemahan keamanan pada sistem AC/CCTV milik vendor. |
Strategi keamanan yang efektif harus mampu membedakan antara kelalaian manusia (human error) yang membutuhkan pendekatan edukatif, dengan niat jahat (malicious intent) yang memerlukan intervensi teknis agresif.
Mengandalkan kepercayaan semata bukan lagi strategi pertahanan yang valid di era digital. Tanpa visibilitas granular terhadap perilaku pengguna dan pengelolaan akses yang ketat, organisasi Anda pada dasarnya beroperasi dalam blind spot—di mana serangan yang paling merusak justru datang dari orang-orang yand diberikan akses setiap hari.
Contoh Kasus Insider Threat
Untuk menggambarkan betapa seriusnya dampak ini, mari kita lihat beberapa skenario yang mencerminkan kejadian nyata di dunia bisnis.
1. Sindikat Jual Beli Data via Telegram (2024)
Ancaman malicious insider terus berevolusi seiring teknologi. Pada tahun 2024 yang bersumber dari PYMNTS/Bloomberg , terungkap kasus di mana sejumlah pegawai bank di AS termasuk di institusi besar seperti TD Bank dan Navy Federal Credit Union menyalahgunakan akses sah mereka untuk menjual data rekening nasabah kepada penipu melalui aplikasi Telegram.
Informasi ini kemudian digunakan untuk mem-bypass pertanyaan keamanan bank dan menguras dana nasabah. Laporan dari PYMNTS menyoroti bagaimana pegawai bank membantu penipu menggali data sensitif, yang menyebabkan kerugian ratusan ribu dolar bagi korban individu dan memicu skema penipuan bernilai setengah juta dolar.
Kasus ini menegaskan bahwa tanpa monitoring perilaku yang ketat, akses karyawan yang sah adalah celah keamanan yang paling sulit ditutup.
2. Sabotase Mantan Kontraktor Waste Management
Kegagalan dalam manajemen identitas, khususnya proses offboarding, dapat berakibat fatal. Hal ini dialami oleh perusahaan Waste Management ketika seorang mantan kontraktor IT yang telah dipecat ternyata masih memegang kredensial aktif. Memanfaatkan statusnya sebagai former insider yang tidak terdeteksi, ia masuk kembali ke sistem dan menjalankan skrip berbahaya yang mereset 2.500 password pegawai lain, melumpuhkan operasional perusahaan seketika. Insiden yang dilaporkan oleh Chron ini mengakibatkan kerugian total hingga US$862.000 (sekitar Rp13 miliar) untuk biaya forensik, pemulihan sistem, dan hilangnya produktivitas. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman internal tidak selalu tentang pencurian data, tetapi juga sabotase operasional.
3. Kebocoran Data Bank of America (US$10 Juta)
Dalam salah satu kasus historis paling signifikan di sektor finansial, Bank of America menderita kerugian masif akibat ulah seorang malicious insider. Seorang karyawan secara ilegal mentransfer data pribadi nasabah ke sindikat kriminal luar untuk digunakan dalam skema penipuan cek. Karena lemahnya pengawasan terhadap akses privilese saat itu, aktivitas ini berlangsung cukup lama sebelum terdeteksi. Menurut laporan Computerworld, insiden pencurian data ini merugikan bank hingga US$10 juta, sebuah angka yang menunjukkan bahwa biaya akibat insider threat jauh melampaui denda regulasi, namun menyerang langsung profitabilitas dan reputasi perusahaan.
Bagaimana Cara Mengatasi Insider Threat?
Jika indikasi serangan sudah terdeteksi, respons cepat adalah kunci untuk meminimalkan kerusakan.
- Isolasi dan penahanan. Segera bekukan akun pengguna yang dicurigai dan putuskan perangkat mereka dari jaringan perusahaan.
- Investigasi forensik. Kumpulkan bukti digital (log akses, rekaman CCTV, riwayat email) tanpa merusak integritas data untuk keperluan hukum atau disipliner.
- Remediasi hukum dan operasional. Libatkan tim HR dan legal untuk menentukan sanksi yang sesuai, serta tim IT untuk menambal celah keamanan yang dieksploitasi.
Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Insider Threat?
Penanganan insiden cenderung selalu lebih mahal daripada pencegahan itu sendiri.
Berikut adalah kerangka kerja komprehensif mengenai apa yang harus dilakukan untuk mencegah insider threat di lingkungan enterprise:
| Pilar Pencegahan | Tindakan Implementasi Teknis | Target Mitigasi & Dampak |
|---|---|---|
| Budaya & Edukasi | Security Awareness Training : Simulasi phishing berkala dan edukasi bahaya rekayasa sosial (social engineering). | Mengurangi risiko Negligent Insiders dan manipulasi (The Pawn) akibat human error. |
| Tata Kelola Identitas | Identity Lifecycle Management : Standarisasi proses onboarding hingga offboarding yang ketat sebagai. Lebih lanjut : Manajemen Akses Karyawan | Mencegah akses “zombie accounts” dari Former Insiders yang sudah resign namun akunnya masih aktif. |
| Otomasi Akses | Automated Provisioning : Pemberian dan pencabutan hak akses secara otomatis berbasis peran, serta access review berkala. | Menghilangkan privilege creep (akumulasi hak akses) yang sering terjadi pada karyawan lama |
| Kontrol Granular | Role-Based Access Control (RBAC) : Menerapkan kebijakan akses statis maupun dinamis (ABAC) berdasarkan konteks | Membatasi ruang gerak Malicious Insiders hanya pada data yang relevan dengan pekerjaan mereka |
| Keamanan Admin | Privileged Access Management (PAM) : Menerapkan prinsip Least Privilege dan mengamankan akun administrator dengan MFA ketat | Melindungi kunci keamanan dari Compromised Insiders yang akunnya diambil alih peretas |
| Proteksi Data | DLP & Endpoint Security : Memblokir port USB, membatasi upload ke cloud drive pribadi, dan enkripsi data sensitif | Mencegah eksfiltrasi data intelektual (IP) maupun data pelanggan keluar jaringan |
| Manajemen Vendor | Third-Party Risk Management (TPRM) : Audit keamanan vendor sebelum integrasi VPN/API. Panduan: TPRM Vendor Digital | Menutup celah keamanan yang berasal dari ekosistem rantai pasokan (Third-Party Insiders) |
| Pendeteksian Dini | User and Entity Behavior Analytics(UEBA ) : Memantau anomali perilaku dan mencatat log aktivitas. Detail: Audit Trail Keamanan | Mendeteksi pola mencurigakan (seperti pengunduhan massal) sebelum kerusakan fatal terjadi |
Solusi Adaptist: Governance & Security Terpadu
Mengelola ancaman internal bukan hanya soal memasang antivirus, melainkan permasalahan terkait tata kelola identitas dan pengawasan data yang ketat. Itulah mengapa keamanan informasi penting bagi perusahaan modern yang ingin bertahan.
Adaptist menghadirkan ekosistem solusi yang dirancang khusus untuk memitigasi risiko ini:
- Kendalikan Identitas dengan Adaptist Prime (IAM/IGA) Akar masalah insider threat sering kali adalah manajemen akses yang buruk. Adaptist Prime menggabungkan IAM dan IGA untuk memastikan:
- Zero-Day Offboarding: Memangkas waktu pencabutan akses karyawan keluar dari hitungan hari menjadi menit, menutup celah bagi former insiders.
- Pencegahan Pelanggaran: Mencegah hingga 99% pelanggaran data yang terkait dengan penyalahgunaan akses.
- Conditional Access: Membatasi akses berdasarkan lokasi dan perangkat, sehingga kredensial yang dicuri (compromised insider) tidak bisa digunakan dari lokasi asing.
- Mitigasi Risiko Vendor dengan Adaptist Privee (GRC/Privacy). Untuk mengatasi Third-Party Insiders, Adaptist Privee menyediakan fitur Third Party Risk Assessment (TPRA). Platform ini juga membantu Anda memetakan aliran data sensitif melalui fitur ROPA, sehingga Anda tahu persis data apa yang perlu dijaga paling ketat dari ancaman internal.
Dengan dukungan Adaptist Prime, perusahaan Anda dapat membangun ekosistem digital yang aman, hemat waktu, dan siap berkembang tanpa mengorbankan perlindungan data atau kenyamanan pengguna.
FAQ
Apakah insider threat selalu disengaja?
Tidak. Sebagian besar insiden justru disebabkan oleh kelalaian (negligence) atau kesalahan yang tidak disengaja (human error), bukan niat jahat.
Sektor industri apa yang paling rentan?
Sektor keuangan, kesehatan, dan teknologi adalah target utama karena nilai data yang mereka miliki sangat tinggi.
Apakah firewall bisa mencegah insider threat? Secara umum tidak.
Firewall dirancang untuk menahan ancaman dari luar (eksternal). Insider threat sudah berada di dalam jaringan, sehingga memerlukan pendekatan Zero Trust dan IAM (Identity Access Management).
Apa langkah pertama jika menduga ada karyawan yang mencuri data?
Jangan langsung menegur. Lapor ke tim keamanan IT atau HR, dokumentasikan bukti, dan batasi akses mereka secara diam-diam untuk mencegah penghapusan jejak.


