Satu akun karyawan yang dibobol bisa berakhir sebagai kebocoran di satu aplikasi atau kelumpuhan di seluruh jaringan. Hasilnya terutama bergantung pada model keamanan yang dipakai perusahaan, yaitu zero trust atau perimeter security.
Pada Mei 2021, penyerang masuk ke Colonial Pipeline, operator pipa bahan bakar di Amerika Serikat, lewat satu profil VPN lama yang hanya memakai kata sandi. Menurut kesaksian CEO-nya di Senat AS, VPN tersebut tidak dilindungi autentikasi multifaktor (MFA), dan perusahaan menghentikan operasional pipa untuk mencegah malware menyebar ke jaringan industri.
Artikel ini membahas pengertian dan cara kerja kedua model, perbedaan utamanya, alasan perimeter saja tidak cukup, dan langkah beralih ke zero trust secara bertahap mulai dari identitas.
Apa Itu Perimeter Security?
Perimeter security adalah model keamanan yang melindungi perusahaan dengan satu batas luar jaringan, lalu memercayai siapa pun yang sudah berada di dalamnya. Model ini paling cocok untuk kantor dengan jaringan tertutup, tempat semua pengguna dan aplikasi berada di satu lokasi.
Batas itu dijaga firewall untuk lalu lintas internet dan gerbang VPN untuk karyawan yang bekerja dari luar kantor.
Cara Kerja Perimeter Security
Pada perimeter security, pemeriksaan umumnya hanya terjadi sekali, di pintu masuk, seperti pabrik dengan satu gerbang berpenjaga. Setelah lolos gerbang, seorang tamu bisa berjalan ke ruang kontrol mesin dan kantor keuangan tanpa diperiksa lagi.
Panduan NIST SP 800-207 dari lembaga standar teknologi Amerika Serikat menyebut area di balik gerbang itu zona kepercayaan implisit (implicit trust zone), tempat semua pihak dipercaya. Setelah penyerang menembus perimeter, menurut dokumen yang sama, pergerakannya ke sistem lain tidak lagi terhalang.
Apa Itu Zero Trust?
Zero trust adalah model keamanan yang menilai setiap permintaan akses secara terpisah dan tidak memercayai pihak mana pun hanya karena berada di dalam jaringan. Dalam rumusan NIST, pertahanan bergeser dari perimeter jaringan yang statis ke pengguna, aset, dan sumber daya.
NIST juga menegaskan bahwa zero trust adalah kumpulan prinsip panduan dan bukan satu arsitektur tunggal, sehingga tidak ada produk yang otomatis menjadikan perusahaan zero trust.
Cara Kerja Zero Trust: Setiap Akses Diperiksa Ulang
Zero trust membuka akses ke sebuah sumber daya hanya setelah identitas pengguna, kondisi perangkat, dan konteks permintaannya diperiksa. Lokasi, di dalam atau di luar jaringan kantor, tidak menjadi alasan untuk melewatkan pemeriksaan itu.
Autentikasi dan otorisasi, untuk pengguna maupun perangkat, berlangsung sebelum sesi ke sumber daya perusahaan dibuka.
Dalam praktik, sistem biasanya menilai empat hal sebelum memberi akses:
- Siapa penggunanya, dibuktikan dengan kata sandi ditambah faktor kedua seperti aplikasi autentikator atau kunci keamanan.
- Perangkat apa yang dipakai, termasuk apakah sistem operasinya sudah diperbarui dan dikelola perusahaan.
- Kapan dan dari mana akses terjadi, misalnya login dari negara yang belum pernah dipakai pada tengah malam.
- Seberapa sensitif sumber daya yang diminta, sehingga sistem penggajian dan wiki internal tidak diperlakukan sama.
Izin untuk satu sistem tidak otomatis berlaku untuk sistem lain, sehingga akun yang dibobol terbatas pada apa yang memang menjadi haknya.
Bahasan komponen teknisnya, seperti policy engine yang memutuskan izin akses, ada di panduan implementasi Zero Trust Architecture.
Zero Trust vs Perimeter Security: Perbedaan Utamanya
Perbedaan utamanya ada pada dasar kepercayaan: perimeter security memercayai lokasi jaringan, sedangkan zero trust memercayai bukti yang diperiksa pada setiap permintaan akses. Tabel berikut membandingkan keduanya pada delapan aspek.
| Aspek | Perimeter security | Zero trust |
|---|---|---|
| Dasar kepercayaan | Lokasi: pihak di dalam jaringan dianggap tepercaya | Bukti: tidak ada pihak tepercaya otomatis, di dalam maupun di luar jaringan |
| Titik kontrol | Batas luar jaringan, seperti firewall dan gerbang VPN | Setiap sumber daya: aplikasi, data, server, dan sesi akses |
| Pemeriksaan identitas | Umumnya sekali, saat masuk jaringan | Pada setiap permintaan akses, dengan konteks tambahan |
| Hak akses setelah masuk | Luas, mengikuti segmen jaringan | Sempit, hanya sumber daya yang dibutuhkan peran tersebut |
| Akses jarak jauh | Terowongan VPN ke jaringan internal | Akses per aplikasi setelah verifikasi |
| Dampak satu akun yang dibobol | Penyerang dapat bergerak ke sistem lain dalam segmen jaringan yang sama | Penyerang terbatas pada izin akun tersebut |
| Status perangkat | Diterima selama terhubung ke jaringan kantor | Diperiksa kondisinya sebelum dan selama akses |
| Kecocokan | Pengguna dan aplikasi yang semuanya berada di satu jaringan | Campuran kantor, cloud, aplikasi berlangganan (SaaS), kerja jarak jauh, dan vendor |
Peralihan ke zero trust tidak mengharuskan VPN dihapus pada hari pertama. Dalam panduan NIST, pengguna jarak jauh seharusnya tidak wajib melewati VPN ke jaringan perusahaan untuk membuka layanan cloud.
Teknologi yang menerapkan akses per aplikasi semacam itu dikenal sebagai Zero Trust Network Access (ZTNA).
Mengapa Perimeter Security Saja Tidak Lagi Cukup
Keamanan perimeter saja tidak lagi cukup karena pengguna dan data kini sering berada di luar batas yang dijaganya, sementara satu kredensial curian sudah bisa melewati batas itu. NIST mencatat bahwa firewall perimeter kuat sebagai gerbang internet, tetapi kurang berguna untuk mendeteksi serangan dari dalam jaringan dan tidak melindungi pengguna di luar perimeter.
Empat perubahan berikut menggeser pengguna dan data keluar dari batas itu:
- Pekerja jarak jauh mengakses sistem dari jaringan rumah dan kafe yang tidak dikendalikan perusahaan.
- Perangkat pribadi membuka aplikasi kantor tanpa pernah terhubung ke jaringan kantor.
- Aplikasi dan data pindah ke layanan cloud dan SaaS yang jauh dari firewall kantor.
- Vendor dan kontraktor hanya butuh akses ke satu sistem, bukan ke seluruh jaringan.
Contoh Kasus: Satu Profil VPN Lama pada Colonial Pipeline
Kasus di awal artikel menunjukkan pola yang sama. Profil VPN itu tidak dimaksudkan untuk dipakai lagi, dan kata sandinya rumit, tetapi satu faktor saja membuat gerbang perimeter terbuka bagi siapa pun yang memegang kata sandi tersebut.
Setiap jalur masuk yang tersisa, termasuk profil lama yang tidak dipakai, harus memiliki faktor kedua atau dimatikan. Pada model zero trust, login VPN yang berhasil pun belum otomatis membuka sistem internal lain.
Apakah Zero Trust Menggantikan Perimeter Security?
Tidak, zero trust tidak menggantikan perimeter security sepenuhnya. Prinsipnya menghapus asumsi bahwa lokasi jaringan sama dengan kepercayaan, sedangkan firewall dan segmentasi tetap berguna sebagai lapisan dasar.
NIST memperkirakan sebagian besar perusahaan akan menjalankan campuran zero trust dan perimeter untuk waktu yang tidak ditentukan, dan menyebut peralihan ini sebagai perjalanan, bukan penggantian infrastruktur sekaligus.
Sikap yang paling masuk akal adalah mempertahankan perimeter sebagai lapisan pertama dan berhenti menjadikannya satu-satunya penentu akses. Ketika batas jaringan makin kabur, identitas pengguna menjadi titik kontrol yang tersisa, seperti dibahas dalam identity-first security.
Perimeter saja masih masuk akal hanya bila semua pengguna dan aplikasi berada di satu jaringan yang Anda kendalikan sepenuhnya. Kondisi itu gugur begitu perusahaan memakai satu aplikasi SaaS atau mengizinkan satu karyawan bekerja dari rumah.
Tanda Bisnis Anda Masih Bergantung pada Perimeter
Bisnis Anda masih bergantung pada perimeter jika lokasi jaringan atau satu kali login menentukan akses, tanpa pemeriksaan ulang pada setiap sistem penting. Enam tanda berikut membantu menilai posisi Anda:
- Semua karyawan yang terhubung lewat VPN dapat menjangkau server internal yang sama, apa pun perannya.
- Autentikasi multifaktor hanya aktif untuk email, atau belum aktif pada VPN dan akun administrator.
- Ada akun administrator atau profil VPN yang tidak pernah ditinjau sejak dibuat.
- Akun karyawan yang sudah keluar tidak otomatis dinonaktifkan pada hari terakhirnya.
- Laptop atau ponsel pribadi yang tidak dikelola perusahaan dapat membuka aplikasi kerja hanya dengan kata sandi.
- Tim IT tidak bisa menjawab dengan cepat siapa saja yang membuka sistem keuangan bulan lalu.
Setiap tanda yang berlaku punya padanan pada salah satu langkah di bagian berikutnya.
Langkah Beralih dari Perimeter Security ke Zero Trust
Beralihlah secara bertahap dengan mengamankan jalur akses yang melintasi perimeter lebih dulu, yaitu VPN, akun administrator, dan akun vendor, lalu perluas aturan zero trust ke sistem lain. Pendekatan ini sejalan dengan panduan NIST: lindungi aset bernilai tertinggi terlebih dahulu, dimulai dengan mendata pengguna, aset, dan proses bisnis yang berisiko.

Urutan berikut menempatkan identitas di depan:
- Daftarkan semua jalur yang melintasi perimeter, yaitu akun VPN, akun administrator, akun vendor, dan service account milik aplikasi. Matikan profil yang tidak dipakai.
- Aktifkan autentikasi multifaktor pada jalur tersebut, dimulai dari VPN dan akun administrator.
- Satukan login aplikasi lewat single sign-on (SSO) supaya aturan akses dan pencabutan akses dikelola dari satu tempat.
- Terapkan hak akses minimum berdasarkan peran, lalu tinjau secara berkala, terutama saat karyawan berpindah divisi atau keluar.
- Tambahkan syarat konteks pada aplikasi paling sensitif, misalnya kondisi perangkat dan login dari lokasi yang tidak biasa.
- Pantau log akses dan perluas aturan ke sistem berikutnya. Pensiunkan VPN lama setelah akses per aplikasi berjalan.
Tim IT biasanya mengerjakan langkah 2 sampai 4 dengan platform manajemen identitas dan akses (IAM), yang mengelola MFA dan SSO bersama pengaturan hak akses dari satu tempat.
Menurut NIST, MFA mengurangi risiko akun yang dibobol, tetapi penyerang dengan kredensial sah tetap dapat membuka apa pun yang diizinkan untuk akun itu. Karena itu, hak akses minimum tetap diperlukan.
Pelajari Zero Trust Security
Zero Trust Security merupakan strategi keamanan yang kini menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi di tengah tingginya risiko serangan siber dan penyalahgunaan akses.
Zero Trust Security
Perdalam pemahaman Anda tentang Zero Trust Security dan pelajari prinsip serta penerapannya secara menyeluruh dengan mengunduh PDF ini. Keamanan data Anda menjadi prioritas kami.
Kesimpulan
Perimeter security menjaga gerbang, sedangkan zero trust memeriksa setiap pintu di dalamnya. Perusahaan sebaiknya mempertahankan keduanya, tetapi tidak lagi menjadikan lokasi jaringan sebagai bukti kepercayaan.
Langkah pertama yang paling praktis adalah mendata jalur akses yang melintasi perimeter, mengaktifkan MFA di sana, lalu memusatkan login lewat SSO.
Siap Mengelola Identitas Digital sebagai Strategi Keamanan Bisnis?
Request demo sekarang dan pelajari bagaimana solusi IAM membantu memusatkan proses login pengguna melalui Single Sign-On (SSO), mengotomatisasi onboarding karyawan, serta melindungi data perusahaan dari akses tidak sah tanpa mengganggu produktivitas akibat login berulang.
FAQ
Tidak. NIST menyebut organisasi apa pun bisa mendapat manfaat dari arsitektur zero trust, dan perusahaan kecil dapat memulai dari MFA pada VPN dan akun administrator.
Belum. MFA memperkuat verifikasi identitas, sedangkan zero trust juga menuntut hak akses minimum dan pemeriksaan perangkat.
Tidak harus. Single sign-on mengurangi login berulang, dan pemeriksaan tambahan cukup muncul saat konteks akses berubah atau sistemnya sensitif.
Microsegmentation memecah jaringan menjadi zona kecil dengan aturan akses masing-masing. Penyerang yang masuk ke satu zona tidak otomatis bisa menjangkau zona lain.
ZTNA adalah teknologi yang menerapkan prinsip zero trust pada akses ke aplikasi. Zero trust sendiri adalah prinsip desain keamanan yang lebih luas, dan ZTNA hanya salah satu cara menerapkannya.




